Senin, 01 Juli 2013

Analisis Jurnal
  
Performance Analyses Of U.S. Property-Liability Reinsurance Companies


1.    Tema, pengarang, tahun pembuatan jurnal
Tema                       : Mengidentifikasi kinerja perusahaan reasuransi di amerika dan membandingkan kinerja perusahaan reasuransi dengan asuransi primer.

Pengarang                             : Yueyun Chen dan Iskandar S. Hamwi

Tahun Pembuatan Jurnal      : 2000


2.    Judul

Judul Jurnal                             :  Performance Analyses Of U.S. Property-Liability Reinsurance Companies

3.    Latar belakang         :

Dewasa ini perusahaan reasuransi merupakan suatu yang terbilang mutlak dalam perkembang bisnis asuransi. Namun di Amerika Serikat tidak banyak terdapat perusahaan reasuransi domestik dan usaha reasuransi masih di dominasi di seluruh dunia terutama oleh perusahaan reasuransi negara – negara Eropa Barat. Lebih dari 20% dari reasuransi di Amerika Serikat ditulis atau dikerjakan oleh reasuransi asing non – lisensi. Hal ini terjadi lantaran banyak pihak di Amerika yang masih belum percaya dengan kinerja perusahaan reasuransi yang pemiliknya adalah orang amerika. Para nasabah masih meragukan kinerja perusahaan reasuransi milik Amerika dan lebih memilih asuransi  primer atau asuransi yang tidak menjual asuransinya kepada pihak asuransi lain. Oleh sebab itu, diadakan penelitian ini dengan maksud untuk membandingkan kinerja asuransi primer dan reasuransi domesrtik Amerika Serikat sehingga para nasabah akan merasa tertarik untuk memilih atau menggunakan bisnis reasuransi daripada asuransi primer.

4.    Masalah                  :

Permasalahan yang diangkat dalam jurnal ini adalah sedikitnya masyarakat Amerika yang percaya terhadap bisnis reasuransi domestik dan selalu membandingkan bisnis reasuransi terhadap asuransi primer. Dengan rasa ketidakpercayaan itulah yang membuat bisnis ini tidak maju di Amerika serikat. Sehingga banyak reasuransi domestic yang tidak dapat mengembangkan bisnis mereka padahal bila dapat berkembang dengan baik tentunya bisnis ini dapat berkembang pesat dan Amerika Serikat tidak perlu bekerja sama dengan perusahan reasuransi asing dalam bidang asuransi ini.

5.    Metodologi                   :
·       Data                        : Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data primer  yaitu data keuangan perusahaan reasurasi yang bernama property – liability tahun 1991 – 1995 dan data sekunder.

·       Variabel                  : Variabel yang di gunakan dalam jurnal ini adalah analisis kinerja keuangan perusahaan reasuransi dan hasil perbandingan perusahaan reasuransi dengan asuransi primer.

6.    Hasil analisis                 :

Berdasarkan analisis jurnal ini terdapat beberapa hasil yang sangat penting dari penelitian jurnal ini. Diantarannya adalah bahwa nilai rata – rata kekayaan pihak reasuransi sebesar $ 319.000.000 sedangkan asuransi primer $ 213.000.000. Maka hal ini menggambarkan bahwa perusahaan reasuransi nilai rata – rata kekayaannya lebih besar $ 106.000.000 dibandingkan perusahaan asuransi primer. Selain itu sistem distribusi yang digunakan perusahaan reasuransi menunjukkan bahwa 26% menggunakan sistem distribusi keagenan, 30% menggunakan sistem direct –writer, dan 40% menggunakan sistem broker. Sedangkan perusahaan asuransi primer menggunakan 70% sistem distribusi keagenan, 23% sistem direct – writer, dan 4% menggunakan sistem broker. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem keagenan asuransi primer lebih menonjol daripada perusahaan reasuransi dan sistem broker lebih banyak digunakan oleh perusahaan reasuransi.

Sedangkan analisis kinerja perusahaan dengan menggunakan analisis regresi menunjukkan bahwa regresi CRAD (rasio gabungan) perusahaan  reasuransi domestic sebesar 21,82% lebih signifikan daripada perusahaan asuransi primer yang hanya 1%. Sehingga disimpulkan bahwa rasio gabungan perusahaan reasuransi lebih tinggi daripada perusahaan asuransi primer.

Selain itu, perusahaan reasuransi domestik di Amerika yang professional tidak akan melakukan financial terhadap asuransi primer hal ini dapat memperjelas bahwa pasar reasuransi di Amerika Serikat lebih kompentitif dibandingkan pasar asuransi primer.

7.    Kesimpulan                    :

Jurnal ini membahas mengenai masalah perusahaan reasuransi domestik di Amerika yang tidak berkembang pesat karena masalah persaingan. Pesaingan utamanya adalah perusahaan asuransi primer yang mempercayakan perusahaan asing (reasuransi asing) untuk melakukan bisnis dengan mereka sehingga perusahaan reasuransi domestic Amerika Serikat terlihat lesu dan tidak mengalami perkembangan secara signifikan.

Hasil penelitian yang telah disebutkan diatas dapat menunjukkan bahwa sebenarnya  pasar perusahaan reasuransi domestic di Amerika lebih kompetitif dibandingkan perusahaan asuransi primer. Oleh sebab itu, seharusnya pelaku ekonom atau nasabah asuransi di Amerika Serikat lebih sering menggunakan reasuransi domestic daripada asuransi primer yang mengasuransikan/melakukan bisnis dengan reasuransi asing. Walaupun ada hal positif yang diterima melalui bisnis tersebut namun ada baiknya bila lebih mempercayakan kinerja perusahaan reasuransi domestic agar bisnis ini dapat berkembang dengan baik.



Nama     : Hapsari Widayani  
Kelas      : SMAK 05 
NPM       : 23211213

Minggu, 30 Juni 2013

World Financial Flow



              Pinjam dan meminjamkan dana (uang) adalah hal yang mutlak terjadi pada transaksi ekonomi. Pihak yang meminjamkan dana (surplus) adalah orang yang memiliki dana lebih untuk meminjamkan sebagian uangnya. Sedangkan orang yang meminjam dana (defisit) adalah orang yang tidak memiliki cukup dana (uang), biasanya mereka meminjam dana untuk membuka usaha (modal usaha) atau untuk hal – hal penting lainnya. Dalam hal pinjam meminjamkan dana secara langsung (tanpa prantara) seseorang/ lembaga harus saling kenal yang nantinya akan menimbulkan kepercayaan. Setelah merasa saling percaya hal terpenting yang kedua adalah adanya dana yang dapat di pinjamkan. Kedua hal tersebut dinamakan double coincidence. Namun dengan adanya bank sebagai media perantara kegiatan pinjam meminjam dapat dilakukan secara tidak langsung karena dana dari pihak yang surplus akan dihimpun untuk dipinjamkan kepada pihak yang deficit. Oleh karena itu, bank disebut juga sebagai financial intermediary atau perantara keuangan.

           Ketika A (+) menabungkan uangnya ke Bank S, maka A akan memperoleh bunga yaitu i1. Kemudian uang yang ditabungkan tersebut dipinjamkan kepada B (-) dan B harus membayar bunga sebesar i2 kepada Bank S. Selisih bunga dari A (i1) dan bunga dari B (i2) yaitu penghasilan yang diperoleh Bank S. Dengan kata lain (i2 > i1).

         A dan B dapat secara langsung terhubung tanpa perantara bank jika seandainya B terlibat dalam pasar modal dengan menjual sahamnya dan A yang membelinya. Dengan begitu A dapat memiliki saham (surat kepemilikan perusahaan), memperoleh dividen (i3) pada akhir periode, dan capital gain (selisih harga jual dan harga beli saham jika dijual (i3), jika tidak dijual maka saham A hanya disebut sebagai potential gain). Atau jika B tidak ingin perusahaan dimiliki oleh pihak luar, maka B dapat menjual obligasi (surat hutang dan membayar diskonto (i3)) dan A dapat membelinya.

          Dalam pertukaran uang yang berada dalam proses ekonomi terdapat beberapa motif orang memegang uang yaitu transaksi, berjaga – jaga (precautionary), dan spekulasi. Hal ini disebut dengan M1 dan M2. Sedangkan uang yang telibat dalam pasar modal adalah M3. Jadi uang beredar itu terdiri dari M1,M2,dan M3. Ilustrasi diatas dapat  dilihat  dari bagan dibawah ini.


                B adalah orang yang meminjam uang kepada Bank S. Misalnya B meminjam uang kepada Bank S sebesar 100jt dan kemudian B meninggal dunia. Tentunya Bank S menanggung resiko atas pinjaman B yang sebesar 100jt tadi. Ini dinamakan risk transfer. Maka untuk mengurangi resiko pembayaran yang terlalu berat, Bank S mengasuransikan pinjaman B kepada asuransi XYZ dengan membayar 1jt sehingga uang yang seharusnya dibayarkan oleh Bank S tadi di cover oleh asuransi XYZ. Namun karena asuransi XYZ tidak mampu menanggung pinjaman tersebut dan hanya sanggup menanggung 20jt, maka asuransi XYZ mengajak asuransi OPQ untuk bersama – sama menanggung pinjaman tersebut dan mengasuransikan kembali dengan membayar  premi 800 rb. Hal ini dinamakan reasuransi. Sekarang asuransi XYZ menanggung 20 jt dan hanya menerima 200rb sedangkan asuransi OPQ menanggung 80jt dan menerima 800rb. Namun karena asuransi OPQ  hanya sanggup menanggung 25jt saja, maka asuransi OPQ mengasuransikan kembali ke asuransi KLM dengan membayar premi sebesar 550rb dengan up 55jt. Ini yang dinamakan proses retrosesi. Di Indonesia hanya ada proses reasuransi namun Indonesia selalu dibebankan oleh capital flight (pelarian uang ke luar negeri) dari proses retrosesi ini.  Sekarang asuransi OPQ menanggung 25jt dan menerima 250rb, sedangkan asuransi KLM menanggung 55 jt dan menerima 550rb. Ilustrasi diatas dapat  dilihat  dari bagan dibawah ini.


    Asuransi KLM menggunakan premi tersebut untuk membuat perusahaan baru yang dinamakan manajemen investasi. Manajemen investasi ini bertugas untuk mecari dana dengan membuka 3 perusahaan baru yang dinamakan XY,ZL,HI. Kemudian HI membeli saham Bank S dipasar modal sebesar 20%, ZL dan XY membeli saham Bank S sebesar masing – masing 30%. Bila dijumlahkan, maka kepemilikan perusahaan manajemen investasi terhadap Bank S lebih dari 50%  yaitu sebesar 80%. Artinya perusahaan MI itu dapat mengendalikan Bank Z untuk menggunakan asuransi XYZ, OPQ, dan lalu terus berputar kembali ke asuransi KLM. Ilustrasi diatas dapat  dilihat  dari bagan dibawah ini.


             Permasalahan yang terjadi sekarang adalah orang jarang yang ingin meminjam dana  ke bank karena harus membayar bunga yang relatif tinggi. Karena bank bergantung kepada nasabah sejenis A dan B, jika nasabah sejenis B berkurang, maka bank harus mencari jalan lain agar mampu membayar bunga (i1) kepada nasabah sejenis A. Oleh sebab itu, Bank S membuka perusahaan baru yaitu PT ABC yang diberikan dana untuk bekerja sama dengan PT. AHASS. Kerja sama ini dilakukan untuk memberikan kredit motor (i5) dan kemudian PT. AHASS akan mengirimkan motor ke nasabah tersebut. Dan nasabah itu akan melakukan pembayarannya melalui Bank S (i2). nantinya Bank S akan membayarkan kembali ke PT ABC. di siklus ini akan menghasilkan profit dari i5 - i2. selisih inilah yang dinamakan profit PT ABC.
             Kemudian Bank S membuka perusahaan baru yang dinamakan PT. DEF.  perusahaan ini bertugas untuk mebuka dan menyalurkan kartu kredit kepada nasabah. nasabah ini akan membayar bunga i4 ke PT DEF yang nantinya PT DEF akan membayar bunga kembali ke Bank S (i2). dari siklus ini akan dihasilkan profit dari i4 - i2. selisih inilah yang dinamakan profit PT DEF.
               Selain itu dapat disimpulkan bahwa i1 < i4, dan i2 > i4. Dan pihak yang meminjam ke Bank S bukan hanya personal saja melainkan lembaga seperti Jasa Marga dan lain – lain. Ilustrasi diatas dapat  dilihat  dari bagan dibawah ini. Ilustrasi diatas dapat  dilihat  dari bagan dibawah ini.




Nama  : Hapsari Widayani
Kelas  : SMAK 05 
NPM  : 23211213



Selasa, 23 April 2013



I Won't Give Up
By Jason Mraz

When I look into your eyes
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?

Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find

Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up

I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend

For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am

I won't give up on us
Even if the skies get rough

I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up.


Well, I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am tough, I am loved)

We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we're worth it)


I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

Senin, 18 Maret 2013




Wajah Koperasi Indonesia Saat Ini

Logo Koperasi Lama
Logo Koperasi Baru



















































 



Koperasi merupakan sebuah organisasi bisnis yang dimiliki dan di operasikan oleh orang – seorang demi kepentingan bersama. Koperasi ini sendiri berlandasan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.  Asas kekeluargaan dalam koperasi mengandung makna adanya kesadaran dari hati nurani setiap anggota koperasi untuk mengerjakan segala sesuatu dalam koperasi oleh semua dan untuk semua.


Dari dahulu kita masih berada dibangku SD (sekolah dasar) tentunya oleh guru kita telah diperkenalkan organisasi bisnis ini. Untuk menunjukkan secara nyata bagaimanakah bentuk dan sistematis kerja sebuah koperasi biasanya di setiap sekolah selalu didirikan koperasi. Koperasi tersebut merupakan hasil sebuah kerjasama antara pihak sekolah, guru, dan siswa/i sekolah tersebut. Dengan adanya koperasi tersebut, para siswa mengetahui bagaimanakah cara kerja koperasi tersebut. Kerjasama yang baik antara siswa dan guru menjadikan koperasi itu berkembang dan mendapatkan keuntungan tersendiri bagi guru dan siswa.  


Bagaimanakah potret pertumbuhan koperasi di Indonesia? Pertumbuhan koperasi di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang dapat dilihat dari pertumbuhan koperasi dari tahun 2000 hingga 2008 yang mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu terjadi peningkatan sebesar 50.67 %. Namun, pertumbuhan ini tidak diperkuat denagan dukungan pemerintah sehingga lambat laun koperasi mengalami kemunduran yang signifikan dan akhirnya banyak yang gulung tikar. Hal ini disebabkan selain dari tidak adanya dukungan pemerintah, juga disebabkan oleh tidak adanya rasa kepedulian masyarakat Indonesia terhadap koperasi. 


Perlu kita ketahui apa penghambat kinerja koperasi hingga menyebabkan banyak diantaranya gulung tikar. Terdapat 2 faktor, yaitu :


1.      Masalah Internal

Masalah internal adalah masalah yang terdapat dalam diri koperasi itu sendiri. Masalah internal yang dihadapi oleh koperasi disebakan keterbatasan wawasan yang dimiliki anggota koperasi sehingga loyalitas anggota koperasi terhadap koperasi itu tidak baik sehingga menunjukkan kualitas koperasi yang tidak baik juga. Selain itu, dalam mengolah data keuangan dan sistematis keluar masuknya uang para anggota memiliki keterbatasan wawasan sehingga kinerja koperasi menjadi tidak maksimal.

2.      Masalah Eksternal

  • Iklim yang mendukung pertumbuhan koperasi belum selaras dengan kehendak anggota  koperasi, seperti kebijakan pemerintah yang belem jelas dan efektif untuk koperasi, sistem prasarana, pelayanan, pendidikan, dan penyuluhan.
  •  Banyaknya badan usaha lain yang bergerak pada bidang usaha yang sama dengan koperasi.
  • Kurangnya fasilitas-fasilitas yang dapat menarik perhatian masyarakat dan masih banyaknya masyarakat yang tidak mempercayai koperasi.
 
Walaupun demikian, kita harus optimis bahwa koperasi dapat keluar dari keterpurukannya. Berdasarkan kutipan yang diambil dari http://m.tribunnews.com bahwa keterangan Menteri Koperasi dan Usahan Kecil Menengah (Menkop UKM) Syarief Hasan yang mengatakan bahwa, “pertumbuhan koperasi tiap tahunnya mencapai 7 – 8%. Saya optimis target 300 ribu koperasi bisa dicapai.” Dari kutipan tersebut dapat ditambahkan bahwa hingga paruh 2012, jumlah koperasi di Indonesia telah mencapai 192.443 unit dengan anggotanya sebanyak 33.687.417 orang. Selain itu Syarif menambahkan bahwa, “Status koperasi bertaraf internasional  baru berhak disematkan saat ada pengakuan dari International Cooperative Alliance (ICA) dan tahun ini ICA akan mengeluarkan daftar 300 koperasi terbaik. Dan Indonesia punya lima koperasi kelas internasional.”








Sources :


·         http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi

·         http://bloguli.wordpress.com/2010/09/24/asas-koperasi/

·         http://irsyadrastafara.blogspot.com/2011/11/perkembangan-dan-kondisi-koperasi-di.html

·         http://m.tribunnews.com/2012/09/27/jumlah-koperasi-di-indonesia-sebanyak-192.450

·         http://kikizone.wordpress.com/2011/10/25/faktor-penghambat-perkembangan-koperasi/

·         http://www.anneahira.com/images/koperasi-indonesia.jpg

·         https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjriIk2eSlrpUa6qKuFiMoSKr4QK3AsCmwByGo76_XBZlCFPdufRTFUvYKp_8gXwivX8qr5jOQTzhzACi_juHOefQFFsbg3A14IfyeVz0koseMnyjqMW2ACF-tHRHxu2hQbMYK3VjBlNNCV/s1600/logo+koperasi+baru.jpg